Back to homepage

Kesehatan

Secara matematis Angka Kematian Bayi (AKB) dapat dijelaskan sebagai  banyaknya kematian bayi berusia di bawah satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Kematian bayi yang menjadi rujukan AKB adalah yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen. Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. Sementara ematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar. Dalam bentuk grafik, AKB Kabupaten Kolaka tersaji dalam Grafik 6.1. berikut.

Angka Kematian Bayi Kabupaten Kolaka

Dari Grafik 6.1. terlihat bahwa tren AKB (Angka Kematian Bayi) di Kabupaten Kolaka mengalami penurunan meski pernah terjadi peningkatan pada tahun 2010. AKB menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus. Sedangkan Angka Kematian Post-Neo Natal dan Angka Kematian Anak serta Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gisi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.

Gizi Bayi

Persentasi balita dengan gizi buruk di Kabupaten Kolaka turun secara signifikan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Grafik 6.2 mengindikasikan adanya perbaikan gizi balita. Ini juga akan terkonfirmasi nanti dengan semakin baiknya perkembangan ekonomi di Kabupaten Kolaka dan pemerataannya.

Kebutuhan nutrisi pada bayi dan balita sangatlah penting pada masa  pertumbuhan bayi dan balita. Berikut beberapa kebutuhan bayi yang perlu dipenuhi oleh bayi dan balita. Pertama, karbohidrat. Karbohidrat merupakan sumber energi yang tersedia dengan mudah di setiap makanan dan harus tersedia dalam jumlah yang cukup sebab kekurangan sekitar 15% dari kalori yang ada dapat menyebabkan terjadi kelaparan dan berat badan menurun. Jumlah karbohidrat yang cukup dapat diperoleh dari susu, padi-padian, buah-buahan, sukrosa, sirup, tepung, dan sayur-sayuran.

Kedua, lemak. Pada dasarnya lemak tidak banyak dibutuhkan dalam jumlah  besar kecuali lemak esensial, yaitu asam linoleat dan asam arakidonat. Pada anak usia bayi sampai kurang lebih tiga bulan, lemak merupakan sumber gliserida dan kolesterol yang tidak dapat dibuat dari karbohidrat. Lemak berfungsi untuk mempermudah absorbsi vitamin yang larut dalam lemak yaitu vitamin A, D, E dan K. Jumlah dan jenis lemak yang dikonsumsi sehari-hari berpengaruh  bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Pengaruh tersebut terjadi melalui kandungan kalori atau energi yang dimiliki dan peranan asam-asam lemak tertentu yang terdapat di dalamnya. Bagi bayi, sumber lemak yang ideal dalam air susu ibu (ASI).

Persentasi Balita Gizi Buruk di Kabupaten Kolaka

Ketiga, protein. Protein merupakan zat gizi dasar yang berguna dalam  pembentukan protoplasma sel. Selain itu, tersedianya protein dalam  jumlah yang cukup penting untuk pertumbuhan dan perbaikan sel jaringan dan sebagai larutan untuk menjaga keseimbangan osmoyik  plasma. Protein terdiri dari dua puluh empat asam amino, di antaranya sembilan asam amino esensial (treonin, valin, leusin, isoleusin, lisin, triptofan, fenilalanin, metionin, dan histidin) dan selebihnya asam amino nonesensial. Jika jumlah protein dalam tubuh tinggi dapat memperburuk insufisiensi ginjal. Jika jumlahnya kurang, dapat menyebabkan kelemahan, edema, bahkan dalam kondisi lebih buruk dapat menyebabkan kwshiorkor(kurang protein) dan marasmus (kurang protein dan kalori). Komponen zat gizi protein dapat diperoleh dari susu, telur, daging, ikan, unggas, keju, kedelai, kacang, buncis, dan padi-padian.

Keempat, air, vitamin dan mineral. Air merupakan kebutuhan nutrisi yang sangat penting, mengingat kebutuhan air pada bayi mencapai 75-80% dari berat badan. Air bagi tubuh berfungsi sebagai pelarut untuk pertukaran antarsel. Vitamin untuk memelihara kesehatan, rekuiremen bayi. Sementara mineral merupakan komponen zat gizi yang tersedia dalam kelompok mikro, yaitu: Kalsium, Klorida, Kromium, Tembaga, Flour, Iodium, Zat besi, Maknesium, Mangan, Fosfor, Kalium, Natrium, Sulfur, dan Seng.

Angka Usia Harapan Hidup

Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui Puskesmas, meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya.

Angka Usia Harapan Hidup

Angka Harapan Hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.  Angka Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gisi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan. Dengan terus meningkatnya kecenderungan peningkatan Angka Harapan Hidup hingga 67,68 tahun seperti terlihat di Grafik 6.3 menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan di Kabupaten Kolaka berjalan seperti yang diharapkan.

Tenaga Doker dan Paramedis

Jumlah dokter menjadi salah satu alat ukur tingkat kesehatan masyarakat. Khusus untuk Kabupaten Kolaka, setiap tahunnya jumlah tenaga kesehatan selalu bertambah seiring dengan bertambahnya juga jumlah penduduk. Berkurangnya jumlah dokter dan paramedis di tahun 2013 seperti yang terlihat dalam Tabel 6.4 disebabkan terjadinya pemekaran sebagian wilayah Kabupaten Kolaka masuk ke dalam Kabupaten Kolaka Timur.

 Jumlah Dokter dan Paramedis di Kabupaten Kolaka

Dari Tabel 6.1 tampak bahwa meski masih jauh dari ideal, perbandingan jumlah dokter dan jumlah penduduk cenderung terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun sebagaimana yang tersaji dalam Grafik 6.4. Dalam kalimat yang sederhana dapat digambarkan bahwa saat ini satu dokter di Kabupaten Kolaka masih melayaini tidak kurang dari 4.000 penduduk. Ini masih jauh lebih baik dari tahun 2009 yang mencapai lebih dari 7.000 penduduk.

Perbandingan Jumlah Penduduk dengan Dokter di Kabupaten Kolaka