RS Harifa Kolaka Dituding Malpraktik

By Ismail Marzuki 01 Feb 2018, 06:43:10 WIBKesehatan

RS Harifa Kolaka Dituding Malpraktik

Keterangan Gambar : Ilustrasi. Foto : https://kolakaposnews.com/


Seorang ibu hamil dan bayinya, meninggal setelah ditangani bidan pada rumah sakit bersalin Harifa, Kolaka. Suami korban, Burhanuddin, menuding terjadi malpraktik sehingga dua nyawa yang dicintainya itu melayang.

Ihwalnya, Sri Sugiati (32), warga desa Rahabite kecamatan Toari, Kolaka dibawa oleh suaminya, Burhanuddin ke rumah sakit swasta di Kolaka, pada Jumat (26/1) sekitar pukul 10.00. Saat itu, bidan yang bertugas langsung melakukan pemeriksaan sambil menunggu dokter ahli kandungan yang akan menangani pasien. Selang setengah jam, dokter ahli kebidanan dan kandungan, dr.MA (inisial, red) datang dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Setelah diperiksa, dokter menyatakan pasien dan bayinya dalam kondisi sehat untuk dilakukan persalinan normal.

Burhanuddin mengungkapkan dokter MA sempat memberikan pilihan diberi perangsangan agar persalinan cepat, atau harus menunggu persalinan normal. “Saya bilang mempercayakan pilihan proses kelahiran kepada dokter. Harapan saya, agar mendapatkan proses persalinan terbaik secara medis. Dokter itu memilih persalinan dengan rangsangan,” ujar Burhan.

Perangsangan itu ternyata tidak dilakukan oleh MA, ia menugaskan bidan jaga. Sedangkan MA berpamitan keluar kota. Sekitar pukul 12.10 siang, Burhan meninggalkan istrinya bersama bidan di ruang rawat inap untuk shalat Jumat. Sekitar setengah jam, Burhan kembali dan menyaksikan istrinya berbaring di ruang perawatan sambil menunggu reaksi obat. Sekitar pukul 15.00, salah seorang bidan datang ke ruang perawatan dan meminta Burhan untuk membawa istrinya kembali ke ruangan persalinan, guna mendapakan tindakan perangsangan yang kedua.

Masuk pukul 18.00, ketuban istrinya pecah. Bidan jaga langsung merespon dengan membawa pasien ke ruang persalinan untuk melakukan proses kelahiran. Di ruangan itu, dua bidan telah siap melakukan persalinan. Tak dinyana, saat proses kontraksi, tiba-tiba istrinya mengalami sesak napas. “Dua bidan yang melakukan penanganan itu panik. Mereka langsung memberikan bantuan pernapasan menggunakan tabung oksigen. Bidan juga melakukan pemeriksan keadaan bayi yang sementara dalam kandungan. Ternyata denyut nadi bayi sudah tidak bergerak lagi,” urainya.

Kejadian itu kata Burhan membuat kedua bidan semakin panik, hingga menelepon bidan yang lebih senior. Bidan senior yamg dimaksud pun datang. Satu setengah jam berlalu, bayi tersebut akhirnya terlahir, namun dengan kondisi meninggal dunia. Sambil melakukan pembersihan termasuk penimbangan kepada jenazah bayi malang itu, sementara bidan lainnya mengurusi pasien yang sudah tak sesak napas lagi. Bidan kembali melanjutkan proses dengan mengeluarkan plasenta dan ari-ari dalam rahim istri Burhan.”Saat itu kondisi istri saya terlihat sehat dan sempat meratapi jenazah anak malang kami,” jelas Burhan.

Tidak lama kemudian datang lagi bidan senior lainnya, lanjut Kades Rahabite ini. Sementara proses penarikan ari-ari dari dalam kandungan pasien, tiba-tiba terjadi pendarahan. Pendarahan itu membuat ke empat bidan itu panik lagi.

Dalam kondisi tersebut, salah seorang bidan menelepon MA yang sudah berada di Makassar. Dengan dipandu MA, bidan diarahkan untuk melakukan tindakan penghentian pendarahan dengan cara diberikan suntikan obat tertentu.

Namun tidakan itu tidak berhasil, pendarahan hebat terus terjadi hingga pasien kehilangan kesadaran. Dalam kondisi genting itu, pihak rumah sakit menyarankan agar keluarga segera membawa pasien ke RS Konawe di Unaaha, yang katanya memiliki dokter kandungan.

Sekitar Pukul 21.30, sesuai instruksi pihak rumah sakit Harifa, keluarga membawa pasien ke RS yang dimaksud. Dalam perjalanan Sri Sugiati meninggal dunia, saat waktu menujukkan jam 23 lewat. “Saya sangat-sangat kecewa dengan pelayanan RS Harifa. Kami perkirakan ini adalah malpraktik,” ujar Burhan dengan mata berkaca-kaca, kemarin (30/1).

Atas kejadian itu, pria yang memiliki lima orang anak dari istrinya yang telah meninggal itu, mengaku menyayangkan keputusan dokter dan beberapa tindakan bidan yang dinilai lamban menangani pesalinan istrinya.

Menurutnya, pada saat proses persalinan, seharusnya dokter tak meninggalkan pasien. Apalagi jika bidan yang dipercayakan menangani pasien, belum punya keahlian yang baik. “Buktinya bidan itu yang menangani almarhumah istri dan anak saya merasa panik pada saat terjadi sesak napas itu,” katanya.

Pada saat istrinya sesak, Burhan juga ikut panik. Sebab menurut dia, istrinya yang sudah melakukan empat kali proses persalinan normal sebelumnya itu tak memiliki riwayat penyakit sesak napas. “Saya juga menyayangkan dokter, dimana jauh sebelum istriku melahirkan kami sering konsultasi mengenai perkembangan kehamilannya dengan dokter itu,” ucapnya.

Burhan juga menyangkan, pihak rumah sakit tidak menjelaskan mengenai penyebab meninggalnya istrinya, termasuk terjadinya pendarahan. Burhan beranggapan, hal utama yang penyebab utama istri dan bayinya meninggal karena pengaruh obat rangsangan yang diberikan.

Olehnya itu, Burhan akan memperkarakan kejadian itu ke pihak berwajib. “Kemarin sudah melapor ke Polsek Watubangga, tetapi kami diarahkan untuk melapor ke polsek Kolaka atau Polres Kolaka karena kejadian berada di wilayah itu. Hanya saja belum sempat ke sana karena masih dalam kondisi berkabung,” tandasnya.

Sementara itu, pihak rumah sakit yang coba dikonfimasi wartawan koran ini, tidak berhasil menemui pimpinannya. Saat wartawan mendatangi RS Harifa, salah seorang pegawai mengatakan, pimpinannya sedang tidak berada di tempat. “Pak dokter lagi ke Pomalaa,” ujarnya.

Beberapa bidan juga terlihat acuh dengan kedatangan wartawan koran ini. Salah seorang bidan berhasil ditanya soal kejadiaan naas itu mengatakan tak tahu menahu mengenai pasien yang menjadi yang meninggal itu. “Oh yang dari Toari itu ya, saya tahu itu karena saat itu saya tidak jaga pak,” kata bidan itu.

Begitu pula diminta nomor kontaknya pemilik rumah sakit itu, sang bidan mengaku tidak berani memberikan kepada wartawan. “Maaf saya tidak berani pak, kita simpan saja nomor ta nanti kalau datang pak dokter akan saya beritahukan,” ucapnya.

Hingga saat berita ini diturunkan, pihak rumah sakit tak juga memberikan konfirmasi. (kal/b)

Sumber : https://kolakaposnews.com/



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook