Diprotes, Upah Tukang Pembangunan Perumahan ASN di Tikonu

By Ismail Marzuki 20 Mar 2019, 07:10:02 WIBDesa

Diprotes, Upah Tukang Pembangunan Perumahan ASN di Tikonu

Keterangan Gambar : BUPATI KOLAKA H AHMAD SAFEI SAAT MENGHADIRI PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN PERUMAHAN ASN DI DESA TIKONU. FOTO: DOK KOLAKA POS


DISEPAKATI 15 JUTA, DIPAKSAKAN 13 JUTA

Pembangunan perumahan ASN di desa Tikonu kecamatan Wundulako mulai dilaksanakan. Rencananya pengembang dalam hal ini Unifit Land akan membangun 20 unit rumah bersubsidi tersebut. Namun nampaknya pembangunan perumahan tersebut akan terhambat, pasalnya para tukang atau pekerja yang berasal dari desa Tikonu memprotes upah yang diberikan pengembang karena dinilai penentuan upah hanya sepihak dilakukan oleh pengembang tanpa melibatkan kesepatan para tukang.

” Kami sudah musyawarah yang dipimpin langsung pak camat Wundulako, tapi pada saat itu belum ada kesepakatan resmi dari semua tukang, sehingga akan dilakukan musyawarakan kembali, untuk menentukan upah tukang. Ternyata tidak ada musyawarah lanjutan dan pengembang telah menentukan upah sepihak dengan nilai Rp. 13 juta perunitnya dimana upah tersebut sebelumnya ditolak oleh tukang, ” ungkap Rudin salah satu tukang Tikonu saat ditemui media ini Senin (18/3).

Seharusnya kata Rudin, pihak pengembang melakukan musyawarah agar semua tukang sepakat dengan nilai yang telah ditentukan bersama.

” Ini yang kami tidak terima, tiba-tiba diputuskan sepihak tanpa ada musyawarah lanjutan. Padahal kami telah menanti musyawarah tersebut tapi nyatanya tidak dilakukan dengan alasan yang tidak jelas, dan ini yang kami tidak terima karena merugikan kami. Sehingga kami minta agar dimusyawarakan kembali, ” kesalnya.

Menurutnya, upah yang seharusnya diberikan berdasarkan kesepakatan tukang sebesar Rp 15 juta, sebab jika kita rincikan perunit rumah upah tukangnya bisa mencapai Rp 20 juta.

” Kami minta nilai ditambah dari Rp 13 juta menjadi Rp. 15 juta agar kami tidak dirugikan, ” pintanya.

Hal senada dikatakan Barton seharusnya pengembang tidak menetapkan harga sepihak, sebab dari awal penentuan upah akan selalu dimusyawarakan kembali dan ini yang harus dilakukan oleh pengembang.

    

COMMENTS

DISEPAKATI 15 JUTA, DIPAKSAKAN 13 JUTA

KOLAKAPOS, Kolaka — Pembangunan perumahan ASN di desa Tikonu kecamatan Wundulako mulai dilaksanakan. Rencananya pengembang dalam hal ini Unifit Land akan membangun 20 unit rumah bersubsidi tersebut. Namun nampaknya pembangunan perumahan tersebut akan terhambat, pasalnya para tukang atau pekerja yang berasal dari desa Tikonu memprotes upah yang diberikan pengembang karena dinilai penentuan upah hanya sepihak dilakukan oleh pengembang tanpa melibatkan kesepatan para tukang.

” Kami sudah musyawarah yang dipimpin langsung pak camat Wundulako, tapi pada saat itu belum ada kesepakatan resmi dari semua tukang, sehingga akan dilakukan musyawarakan kembali, untuk menentukan upah tukang. Ternyata tidak ada musyawarah lanjutan dan pengembang telah menentukan upah sepihak dengan nilai Rp. 13 juta perunitnya dimana upah tersebut sebelumnya ditolak oleh tukang, ” ungkap Rudin salah satu tukang Tikonu saat ditemui media ini Senin (18/3).

 

Seharusnya kata Rudin, pihak pengembang melakukan musyawarah agar semua tukang sepakat dengan nilai yang telah ditentukan bersama.

” Ini yang kami tidak terima, tiba-tiba diputuskan sepihak tanpa ada musyawarah lanjutan. Padahal kami telah menanti musyawarah tersebut tapi nyatanya tidak dilakukan dengan alasan yang tidak jelas, dan ini yang kami tidak terima karena merugikan kami. Sehingga kami minta agar dimusyawarakan kembali, ” kesalnya.

Menurutnya, upah yang seharusnya diberikan berdasarkan kesepakatan tukang sebesar Rp 15 juta, sebab jika kita rincikan perunit rumah upah tukangnya bisa mencapai Rp 20 juta.

” Kami minta nilai ditambah dari Rp 13 juta menjadi Rp. 15 juta agar kami tidak dirugikan, ” pintanya.

Hal senada dikatakan Barton seharusnya pengembang tidak menetapkan harga sepihak, sebab dari awal penentuan upah akan selalu dimusyawarakan kembali dan ini yang harus dilakukan oleh pengembang.

 

” Intinya kami menolak upah yang ditetapkan sepihak, sehingga kami minta harus ada musyawarah kembali agar kami puas dan ada kesempatan yang jelas. Jika tidak maka kami tidak akan bekerja jika perlu kami akan hentikan semua kegiatan pembangunan sebelum ada kejelasan, ” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Unifit Land Andre yang dihubungi melalui pesan whatsappnya belum bisa memberikan komentarnya terkait tuntutan pekerja.

” Saya masih di Jakarta Pak, baru ke Kolaka mungkin awal bulan ini, ” singkatnya. (K9/c/hen).

Sumber : https://kolakaposnews.com



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook